Selasa, 22 Maret 2011

Emosi Amarah

Hadits Tentang Emosi Amarah
Oleh : Hasan Asyari Syaikho


A.    Pendahuluan
Manusia adalah makhluk yang memiliki rasa dan emosi. Hidup manusia diwarnai dengan emosi dan berbagai macam perasaan. Manusia sulit menikmati hidup secara optimal tanpa memiliki emosi. Manusia bukanlah manusia, jika tanpa emosi. Kita memiliki emosi dan rasa, karena emosi dan rasa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kita sebagai manusia.
Ahli psikologi memandang manusia adalah makhluk yang secara alami memiliki emosi. Menurut James, emosi adalah keadaan jiwa yang menampakkan diri dengan sesuatu perubahan yang jelas pada tubuh. Emosi setiap orang adalah mencerminkan keadaan jiwanya, yang akan tampak nyata pada perubahan jasmaninya.[1] Sebagai contoh ketika seseorang diliputi emosi marah, wajahnya memerah, nafasnya menjadi sesak, otot-otot tangannya menegang dan energi tubuhnya memuncak. Dan menurut Syaikh Shaleh al-Fauzan hafizhahullah, orang yang tidak bisa marah, terdapat kekurangan pada dirinya. Hanya saja, kemarahan itu harus diterapkan pada tempatnya. Apabila melampaui batas dan rambunya, maka akan menimbulkan bahaya sehingga akan merugikan dan menjadi sifat tercela.[2]
Berdasarkan latar belakang tersebut, pemakalah akan memaparkan hadits yang berkenaan dengan emosi amarah dan bagaimana pula mencegah atau meredamkan amarah itu. Mari kita simak bersama-sama!
B.     Emosi Amarah
Emosi berasal dari kata e yang berarti energi dan mation yang berarti getaran. Emosi kemudian bisa dikatakan sebagai sebuah energi yang terus bergerak dan bergetar. Emosi dalam makna yang paling harfiah didefinisikan sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu dari setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap.[3] Emosi yang kita bahas yaitu tentang emosi amarah.
Marah menurut Chaplin didefinisikan sebagai reaksi emosional akut yang ditimbulkan oleh sejumlah situasi yang merangsang termasuk agresi lahiriah, pengekangan diri, serangan lisan, kekecewaan atau frustasi.[4] Emosi secara implisit disebabkan oleh reaksi serangan lahiriah, baik yang bersifat somatis atau jasmaniah maupun yang verbal atau lisan.
Marah merupakan gejolak jiwa yang mengakibatkan darah dalam hati mendidih dengan nafsu ingin membalas. Jika gejolak ini sangat keras , dia bisa mengobarkan api marah. Akibatnya darah dalam hati mendidih semakin dahsyat, seluruh saraf dan otak tergelapi oleh asap pekat yang merusak kondisi benak dan memperlemah aktivitas benak. Marah juga dapat menghasilkan perasaan benci, dengki, dendam, fitnah dan lain sebagainya.
Emosi atau suka marah adalah bagian dari akhlak tercela yang harus dijauhi oleh setiap muslim. Sebab hanya akan mendatangkan permusuhan dan kerugian dalam hidup bermasyarakat. Rasulullah juga memberikan larangan kepada umatnya untuk melakukan perbuatan emosi atau mudah marah dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Sebagaimana sabdanya sebagai berikut :

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رجلا قال للنبي صلى الله عليه وسلم : أوصني قال : " لا تغضب " فردد مِرارا , قال : لا تغضب  (رواه البخارى)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Berilah wasiat kepadaku”. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Janganlah engkau mudah marah”. Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau : “Janganlah engkau mudah marah”. (HR. Bukhari)[5]

Dari hadits di atas mengandung dua penafsiran, yaitu : pertama, tahanlah marah, yaitu ketika ada sesuatu yang membuat marah maka berusahalah untuk tidak melampiaskan kemarahannya. Kedua, Menghindarkan diri dari sebab-sebab yang mendatangkan kemarahan.
وعن ابي هريرة رضي الله عنه انّ رسول الله صلّى الله عليه وسلم قال: ليس الشّديد بالصرعة انما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب (رواه البخارى و مسلم)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw telah bersabda:“Orang yang kuat bukanlah orang yang kuat bantingan, namun orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai nafsunya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).[6]

Allah juga memuji orang yang dapat mengendalikan nafsunya ketika marah dan mampu memaafkan kesalahan orang lain dalam QS. Ali Imran : 134 dan diriwayatkan juga dalam sabda Nabi saw, sebagai berikut :

وعن معاذ ابن انس رضى الله عنه ان النبى صلى الله عليه وسلم قال : من كظم غيظا, وهو قادر على ان ينفذه, دعاه الله سبحانه وتعالى على رؤس الخلا ئق يوم القيامة حتى يخيره من الحور العين ما تشاء (رواه ابو داؤد و ترمذى)

Dari Mu’adz bin Anas ra, bahwa sesungguhnya Nabi SAW telah bersabda:“Barang siapa menahan marah padahal dia mampu untuk mencurahkan kemarahannya, maka pada hari kiamat nanti Allah SWT akan memanggilnya dihadapan segala makhluk, sehingga dia dipersilahkan untuk memilih bidadari yang dikehendakinya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).[7]
C.    Cara Mencegah Dan Meredamkan Amarah
Menurut filosof Aristoteles dalam The Nicomashean Ethics, “Marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik, bukanlah hal yang mudah.”
Persoalannya sekarang, dapatkah sifat marah benar-benar ditiadakan dari dalam diri manusia?
Jawabannya, meniadakan sifat amarah adalah omong kosong, baik secara teoritik maupun praktik. Selamat dari api kemarahan bukan berarti meniadakan atau menghilangkan sifat amarah dalam diri kita, sebab menghilanhgkan sifat amarah dari dalam diri kita sama halnya dengan menghabisi emosi kita sebagai manusia.
Banyak trik, teknik, kiat, cara atau bahkan teori-teori yang didukung oleh peneliti-peneliti ilmiah tentang bagaimana rahasia mengendalikan amarah itu. Misalnya, dengan melakukan gerakan-gerakan seperti berikut : Pertama, tarik nafas dalam-dalam. Kedua, hembuskan nafas pelan-pelan. Ketiga, pejamkan mata. Keempat, pecahkan amarah yang menumpuk di kepala keseluruh tubuh.
Untuk mengurangi ketegangan akibat kemarahan tersebut, Anda bisa melampiaskannya, misalnya dengan cara berlari, memukul sesuatu (yang tidak merusak dan merugikan orang lain), atau berteriak keras-keras. Setelah itu akan mendapati sedikit demi sedikit api kemarahan itu akan padam.
Dalam beberapa hadits, Nabi saw telah menghadirkan beberapa terapi nabawi untuk meredam emosi:
1.      Membaca Isti’adzah (doa mohon perlindungan) dari setan yang terlaknat.
عن سليمان بن صرد قال: استب رجلان عند النبي صلى الله عليه وسلم ونحن عنده جلوس، وأحدهما يسب صاحبه، مغضباً قد احمر وجهه، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: (إني لأعلم كلمة، لو قالها لذهب عنه ما يجد، لو قال: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم) (رواه البخارى و مسلم)

Dari Sulaiman bin Shurd ra berkata: Dua orang laki-laki saling mencerca didekat Nabi SAW, sedangkan kami sedang duduk di sisi Nabi, salah seorang dari mereka mencerca temannya karena sangat marah dan wajahnya memerah, maka Nabi SAW bersabda : ” sesungguhnya Aku  tahu sebuah kalimat yang bila diucapkannya, niscaya akan lenyap sikapnya (marahnya), andai ia mengatakan : A’uudzu billaihi minasy syaithaanir rajiim. ( HR. Bukhari dan Muslim).[8]

2.      Merubah posisi dengan duduk atau berbaring
عن أبي ذر رضي الله عنه إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لنا إذا غضب أحدكم وهو قائم فليجلس فإن ذهب عنه لغضب  وإلا فليضطجع (رواه الحمد)

Dari Abu Dzar ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jika salah seorang dari kalian marah saat berdiri, hendaknya ia duduk, kalau belum pergi amarahnya, hendaknya ia berbaring. )HR.Ahmad(

3.      Mengambil air wudhu

عن عطية السعدي رضي الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إن الغضب من الشيطان وإن الشيطان خلق من النار وإنما تطفأ النار بالماء فإذا غضب أحدكم فليتوضأ  ( رواه الحمد و ابوداؤد)

Dari Athiyyah as-Sa’di radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah saw bersabda: “sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan itu diciptakan dari api, dan yang dapat memadamkan api itu hanyalah air, maka apabila seseorang dalam keadaan marah hendaklah segera berwudlu. (HR. Ahmad dan Abu Daud)[9]

4.      Menahan diri dengan diam
عن ابن عباس رضي الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: واذا غضبت فاسكت (رواه الحمد و بخارى)

Dari Ibnu Abbas ra, Bahwa Rasulallah saw bersabda: “jika engkau marah, maka diamlah. (HR. Ahmad dan Bukhari).[10]

Maksud diam disini adalah menghentikan bicara, karena dengan tetap bicara sangat mungkin kemarahannya bertambah, atau ia mengucapkan perkataan yang akan ia sesali setelah kemarahannya reda.

5.      Mengingat-ingat keutamaan orang yang sanggup menahan emosi dan bahaya besar yang timbul dari luapan amarah yang akan dijauhkan dari taufik.
Dari Mu’adz bin Anas ra, bahwa sesungguhnya Nabi SAW telah bersabda:“Barang siapa menahan marah padahal dia mampu untuk mencurahkan kemarahannya, maka pada hari kiamat nanti Allah SWT akan memanggilnya dihadapan segala makhluk, sehingga dia dipersilahkan untuk memilih bidadari yang dikehendakinya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Meski demikian, ada kondisi-kondisi khusus dimana seseorang dibolehkan untuk marah, yaitu marah untuk membela agama Allah, dan untuk membela kehormatan seorang muslim yang diinjak-injak. Dalam kondisi seperti itu marah menjadi suatu tindakan yang terpuji. Allah SWT berfirman, “Perangilah mereka niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) teman-temanmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, melegakan hati orang-orang beriman dan menghilangkan kemarahan mereka.” (QS Taubah : 15). Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah Saw tidak pernah marah, namun jika larangan Allah dilanggar maka tidak ada sesuatu pun yang dapat meredam kemarahannya. (HR. Bukhori dan Muslim).
D.    Kesimpulan
-        Manusia adalah makhluk yang secara alami memilki emosi. Apabila manusia yang tidak bisa emosi (marah), terdapat kekurangan pada dirinya. Hanya saja, kemarahan itu harus diterapkan pada tempatnya.
-        Emosi atau marah merupakan akhlak tercela yang harus dijauhi oleh setiap muslim. Rasulullah juga melarang kepada umatnya untuk melakukan perbuatan emosi atau mudah marah dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Sebagaimana sabdanya yang telah disebutkan di atas.
-        Banyak trik, teknik, kiat, cara atau bahkan teori-teori yang didukung oleh peneliti-peneliti ilmiah tentang bagaimana rahasia mengendalikan amarah. Rasulullah juga memberikan resep untuk menghentikan rasa marah. Yakni dengan membaca ta’awudz atau dengan berwudhu. Sebab emosi adalah pengaruh setan, sedangkan setan sangat takut terhadap orang yang membaca ta’awudz. Dan sebaiknya apabila salah seorang di antara kamu marah hendaklah segera berdiam diri. Jangan banyak bicara, namun perbanyaklah berdzikir kepada Allah.
-        Ada kondisi-kondisi khusus dimana seseorang dibolehkan untuk marah, yaitu marah untuk membela agama Allah, dan untuk membela kehormatan seorang muslim yang diinjak-injak. Dalam kondisi seperti itu marah menjadi suatu tindakan yang terpuji, sesuai dengan firman Allah SWT QS. At-Taubah: 15
E.     Penutup
Demikian makalah yang kami buat, dan kami menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran agar dapat menyempurnakan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi pemakalah sendiri. Aamiiin.

DAFTAR PUSTAKA

Abduh, Yunan, Lc ; “ Hadits Arba’in An-Nawawi dan Terjemahannya “, (Surakarta : Media Insani Press, 2007).

Al-Adawy, Musthofa,  Fikih Akhlak, (Jakarta : Qisthi Press, 2005).

Safaria, Triantoro dan Nofrans Eka Saputra, “MANAJEMEN EMOSI : Sebuah Panduan Cerdas Bagaimana Mengelola Emosi Positif dalam Hidup Anda “, ( Jakarta : Bumi Aksara, 2009).

Sunarto, Ahmad, dkk ; Terjemah Shahih Bukhari, (Semarang: CV. Asy-Syifa’, 1993).

Team Penyusun Lintas Media Jombang, “Kumpulan Khutbah Jum’at Para Kyai “, (Jombang : Lintas Media),

http://alqiyamah.wordpress.com/2010/03/05/Petunjuk-Nabi-Dalam-Meredam-Luapan-Emosi/



[1]Triantoro Safaria dan Nofrans Eka Saputra, “MANAJEMEN EMOSI : Sebuah Panduan Cerdas Bagaimana Mengelola Emosi Positif dalam Hidup Anda “, ( Jakarta : Bumi Aksara), 2009. Cet.I. hlm 11
[3] Triantoro Safaria dan Nofrans Eka Saputra, Op.Cit. hlm 12
[4] Triantoro Safaria dan Nofrans Eka Saputra, Ibid. hlm 74
[5] Yunan Abduh, Lc ; “ Hadits Arba’in An-Nawawi dan Terjemahannya “, (Surakarta : Media Insani Press), 2007. Cet. II. hlm 31
[6] Team Penyusun Lintas Media Jombang, “Kumpulan Khutbah Jum’at Para Kyai “, (Jombang : Lintas Media),  hlm. 121
[7] Ibid, hlm 121-122
[8] Ahmad Sunarto, dkk ; Terjemah Shahih Bukhari, (Semarang: CV. Asy-Syifa’) 1993. hlm. 106
[9] Musthofa Al-Adawy,  Fikih Akhlak, (Jakarta : Qisthi Press). 2005, Cet. I. hlm 408
[10] Ibid, hlm. 410

alasan Wanita Harus Masturbasi


ALASAN WANITA HARUS MASTURBASI
Masturbasi sering dikonotasikan dengan sesuatu yang bersifat negatif. Orang menjadikannya alat yang ideal untuk mendapatkan kesenangan diri. Hal ini tak dapat dilepaskan dari fungsi masturbasi itu sendiri.
Pada dasarnya, masturbasi adalah aktivitas merangsang diri sendiri. Bila hal ini dilakukan perempuan, maka ia akan menstimulasi area genitalnya, seperti vagina dan klitoris. Perempuan yang sudah terbiasa mengeksplorasi area vulva-nya, bahkan mampu menemukan area G-spot. Kerapkali perempuan berhasil mencapai orgasme melalui rangsangan ini.
Tak banyak orang yang membicarakan teknik ini, meskipun kenyataannya tak sedikit orang yang bermasturbasi. Hasil studi bahkan menunjukkan bahwa perempuan yang rutin bermasturbasi berpeluang mengalami kehidupan seksual yang lebih memuaskan. Lebih dari itu, mereka juga akan memiliki kesehatan yang lebih baik, termasuk hubungan perkawinan yang lebih bahagia.
Ada poin penting yang juga perlu Anda ketahui mengenai masturbasi. Dengan masturbasi, Anda akan lebih memahami kebutuhan seksual Anda sendiri. Ketika Anda tak mampu berkomunikasi dengan pasangan mengenai hubungan seks yang memuaskan kedua belah pihak, masturbasi menjadi salah satu cara bagi Anda untuk mengeksplorasi seksualitas Anda. Ketika Anda mampu menikmati masturbasi, kepercayaan diri Anda juga akan meningkat.
Manfaat kesehatan Seperti telah disebutkan di atas, ada sejumlah manfaat kesehatan yang bisa diperoleh dari masturbasi, di antaranya:
  1. Mencegah infeksi saluran kemih dan infeksi serviks Dalam berbagai studi pernah diungkapkan bahwa perempuan akan terlindung dari infeksi serviks dan infeksi saluran kemih (ISK) jika mereka masturbasi secara rutin. Ketika seorang perempuan mengalami orgasme, terjadi pembukaan pada leher rahimnya, yang kemudian akan menimbulkan proses peningkatan jumlah bakteri baik di dalam leher rahim. Masturbasi juga menghasilkan pelumas alami vagina, yang akan membantu membilas organisme yang menyebabkan infeksi.
  2. Memperbaiki fungsi kardiovaskuler dan menurunkan risiko diabetes tipe 2 Perempuan yang mendapatkan orgasme secara teratur, melalui hubungan seks dengan pasangan maupun masturbasi, juga menunjukkan peningkatan kesehatan kardiovaskuler (yang berkaitan dengan jantung) dan mengembangkan daya tahan yang lebih besar terhadap diabetes tipe 2.
  3. Obat alami untuk insomnia Masturbasi akan membuat Anda mampu melupakan stres yang dihasilkan oleh kesibukan kerja. Usai sesi masturbasi, Anda juga bisa tidur lebih lelap. Apapun jenis aktivitas seksual yang Anda lakukan, akan memperbaiki kadar dopamin, hormon yang memberikan rasa senang. Ketika Anda baru mencapai klimaks, hormon yang memberikan efek menenangkan (endorfin dan oksitosin) akan dilepaskan. Perasaan senang dan nyaman, ditambah dengan rasa hangat setelah orgasme yang intens inilah yang akan membantu Anda tidur lebih nyenyak.
  4. Dasar panggul yang lebih kuat Tidak perlu diragukan lagi bahwa masturbasi akan membantu memperbaiki kekuatan dasar panggul. Dasar panggul yang sehat akan meningkatkan fungsi-fungsi seksual secara keseluruhan, dan membantu Anda menikmati sesi bercinta dengan lebih baik.


Ciri-ciri: Cowok yang belom pernah pacaran
Cara: mengenali Cowok yang tidak pernah pacaranApakah intinya dari pacaran itu? Kenapa orang berpacaran? Banyak sekali arti pacaran itu dari berbagai sisi. Ada yang bilang, pacaran itu adalah masa untuk mengenal pasangan kamu apakah dia cocok untuk dijadikan pasangan hidup. Ada juga yang bilang “Pacaran itu pemborosan pulsa telpon.” emang ada benernya juga sih!
Memang biasanya butuh beberapa tahun untuk mengenal seseorang secara dalam dan baru bisa membuat keputusan apakah ini orang bakalan jadi suami kamu ato tidak. Nah, memang belom tentu sekali pacaran, langsung cocok dan berhasil sampe jenjang pernikahan. Makanya itu, orang ada yang tidak pernah pacaran, dan ada juga yang berkali-kali pacaran tapi juga tidak nikah-nikah.
Nah, berikut ini adalah ciri-ciri Cowok yang tidak pernah pacaran:

1.      Jarang sekali curhat tentang masalah cinta
Ya karna dia tidak pernah pacaran, ya maklum lah. Memang ga ada juga cerita pribadi yang dia bisa curhat-in. Laen lagi kalo orangnya memang bener2 tertutup dan ga mau curhat soal sesuatu yang pribadi.

2.      Tapi, dia mungkin jadi sering tanya soal masalah cinta
Karna mungkin penasaran, dia malah jadi sering tanya-tanya ke teman baeknya soal masalah cinta apalagi soal “cara mengejar Cewek”. 

3.      Gugup ato jadi canggung di depan seseorang yang dia suka
Biasanya, karna gugup, dia malah jadi bertindak tidak seperti biasanya. Contohnya, misalnya kamu kenal nih Cowok selalu pinter becanda di depan semua Cowok dan Cewek. Tapi keliatannya dia malah jadi tiba2 diem di depan Cewek yang dia suka. Karna mungkin gugup, ato takut si Cewek bakalan menilai dia terlalu cerewet kek, ga lucu lah, ato apa lah … Normal lah buat seseorang jadi gugup kalo berhadapan dengan seseorang yang lagi disuka.

4.      Kurang percaya diri
Biasanya kalo Cowok yang tidak pernah pacaran pasti juga tidak mempunyai percaya diri yang tinggi. Mungkin karna dulu pernah dan sering ditolak oleh Cewek. Mungkin juga karna memang dari awalnya, dia tidak pernah mempunyai kepercayaan diri untuk mendekati si Cewek yang dia suka. 

5.      Kurang gaul/sosialisasi dengan cewek
Coba kamu perhatiin teman2nya dia. Apa dia orangnya suka pergi2 keluar dan bersosialisasi dengan cewek2? Ato, dia itu orangnya suka maen game melulu di rumahnya ato malah sibuk ngebantuin kerjaan orang tuanya selama 12 jam di kantor? Otomatis, orang yang tidak ada waktu untuk sosialisasi, pasti juga lebih sedikit kemungkinan dia untuk mengenal cewek laen.

Apakah ada hal-hal laen yang kalian pernah lihat dari Cowok yang ga pernah pacaran?

Kamis, 24 Februari 2011

Struktur Ilmu Dakwah dan Hubungan Ilmu Dakwah dengan Ilmu-ilmu yang lainnya


Struktur Ilmu Dakwah
Dan Hubungan Ilmu Dakwah Dengan Ilmu-Ilmu Yang Lainnya
 Oleh : Hasan Asy'ari Syaikho Al-Barbasy

A.    Pendahuluan
Aktivitas dakwah sebenarnya telah ada sejak adanya upaya menyampaikan dan mengajak manusia ke jalan Allah, namun kajian akademik keilmuannya masih tertinggal dibandingkan dengan panjangnya sejarah dakwah yang ada. Sebagai sebuah realita, dakwah merupakan bagian yang senantiasa ada sebagai aktivitas keagamaan umat Islam. Sementara sebagai kajian keilmuan pastinya hal ini memerlukan spesifikasi yang berbeda dan persyaratan tertentu.
Dewasa ini terdapat beberapa fenomena yang kemudian menempatkan kesadaran umat bahwa dakwah sebagai suatu aktivitas keagamaan memang memiliki kekutan yang besar dalam membentuk kecendrungan masyarakat. Hal ini sekaligus menumbuhkan secara jelas dan tegas sehingga ilmu ini dapat memberikan inspirasi yang baik bagi kecendrungan masyarakat. 
Maraknya dakwah, ternyata belum mampu menahan masuknya beberapa ajaran atau pemahaman yang tidak relevan dengan nilai-nilai ajaran agama secara hedonistik, matrealistik, dan sekuleristik.  Hal inilah yang kemudian menimbulkan kesalahpahaman dalam memahami dan menghayati pesan simbolis keagamaan. Sehingga ritualitas perilaku kesalehan dalam beragama masyarakat tidak menerangkan tentang perilaku keagamaan yang sesungguhnya di mana nilai-nilai keagamaan menjadi pertimbangan dalam berfikir maupun bertindak oleh individu maupun sosial.
Ilmu dakwah mengalami proses perkembangan yang positif sehinnga semakin hari semakin estabilished sehingga semakin waktu mendapat sambutan dan pengakuan dari masyarakat mengenai eksistensinya.

B.     Rumusan Masalah
1)      Apa Pengertian Ilmu Dakwah dan Bagaimana Struktur Ilmu Dakwah ?
2)      Bagaimana Hubungan Ilmu Dakwah Dengan Ilmu-Ilmu Yang Lainnya ?



C.    Pembahasan
1.      Pengertian Ilmu Dakwah dan Struktur Ilmu Dakwah.
Ilmu atau ilmu pengetahuan dalam bahasa inggrisnya science atau wissenschaft (bahas Jerman) atau watebchaf  (bahasa Belanda) dan ‘alima (bahasa Arab) yang berarti tahu. Jadi science maupun ilmu secara etimologi, berarti pengetahuan. Dalam bahasa Indonesia, antara pengetahuan, yang meliputi disiplin-disiplin ilmu pasti (natural science), ilmu-ilmu sosial (sosial science), dan ilmu-ilmu rohani-humaniora (humantis). Sedangkan dalam Ensiklopedia Indonesia ilmu pengetahuan diartikan sebagai suatu sistem dari berbagai pengetahuan yang masing-masing mengenai satu lapangan pengalaman tertentu yang disusun sedemikian rupa menurut asas-asas tertentu, sehingga menjadi kesatuan, suatu sistem dari berbagai pengethuan yang masing-masing didapatkan dari hasil pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan secara teliti dengan memakai metode-metode tertentu.
Sementara itu menurut A. Hakim Nasution pengetahuan atau science adalah hasil penalaran manusia dengan akalnya berupa pengalaman manusia yang diberi pola sistematis. Oleh Soejono Soemargono diartikan sebagai; Suatu sistem yang terdiri dari pengetahuan-pengetahuan yang ditujukan untuk memperoleh kebenaran (ilmiah) dan sedapat mungkin untuk mencapai kebahagiaan manusia.
Sementara itu RBS. Fudyatartanta mengatakan bahwa pengetahuan yang ada dalam ilmu pengetahuan itu harus diperoleh dari pemikiran yang logis dan rasional. Oleh karena itu, beliau mengatakan bahwa pengetahuan itu ialah: Susunan yang sistematis dari kenyataan ilmiah mengenai suatu objek atau masalah yang diperoleh dari pemikiran yang runtut (hasil logika formil dan logika materil).
Pengertian dakwah banyak dituangkan dalam bahasa dan kalimat yang berbeda, tapi kandungan isinya tetap sama bahwa dakwah dipahami sebagai seruan, ajakan dan panggilan dalam rangka membangun masyarakat Islami berdasarkan kebenaran ajaran Islam yang hakiki. Essensi dakwah adalah segala aktifitas dan kegiatan yang mengajak orang untuk berobah dari satu situasi yang mengandung nilai kehidupan yang bukan Islami kepada nilai kehidupan yang Islami.
Sedangkan ilmu dakwah menurut Toha Yahya Oemar memberikan dua macam definisi ilmu dakwah, yaitu definisi secara umum dan definisi menurut Islam. “Adapun definisi ilmu dakwah secara umum ialah suatu ilmu pengetahuan yang berisi cara-cara  dan tuntutan bagaimana seharusnya menarik perhatian manusia untuk menganut, menyetujui, melaksanakan suatu ideologi, pendapat pekerjaan yang  tertentu. Adapun definisi dakwah menurut islam ialah mengajak manusia dengan cara yang sangat bijaksana kepada jalan yang benar sesuai peringatan Tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat”.[1]
Banyak definisi ilmu dakwah yang menekankan aspek dakwah sebagai realitas sosial, bukan dakwah sebagai kewajiban setiap muslim. Pandangan dakwah sebagai kewajiban akan mengarahkan ilmu dakwah sebagai kajian normatif. Kajian normatif dakwah melibatkan nash Al Qur’an dan Al Sunnah sebagai pijakan utama. Ia tidak hanya menafsirkan nash terkait dengan dakwah, namun menghubungkan secara timbal balik antara nash dan realitas sosial.
Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas maka ilmu dakwah  dapat ditakrik sebagai berikut: Ilmu dakwah adalah ilmu yang membahas tentang bentuk-bentuk penyampaian ajaran islam kepada seseorang atau sekelompok orang terutama mengenai bagaimana seharusnya menarik perhatian manusia agar mereka menerima dan mengamalkan ajaran islam secara kaffah”.[2]
Disiplin ilmu dakwah dapat distrukturkan sebagai berikut:
1.      Ilmu dasar teoritik, yaitu: disiplin ilmu yang   memberikan kerangka teori  dan metodologi dalam dakwah Islam.
2.      Ilmu teknik/terapan, yaitu: disiplin ilmu yang memberikan kerangka teknis/operasional kagiatan dakwah Islam. Disiplin ini memberikan kemampuan teknis keahlian profesi dan disebut ilmu terapan/teknis-operasional dakwah (teknologi dakwah).


Bagian ilmu terapan ini terdiri dari empat kelompok utama, yaitu:
a. Teknologi tabligh (ilmu teknis komunikasi dan penyiaran Islam). Meliputi: teknik khithabah, teknik peliputan berita dakwah, produksi radio, televisi dan film dakwah, teknik penulisan tajuk rencana dan feature dakwah, teknik pengebangan majlis taklim, geografi Islam, kebijakan dan strategi informasi Islam, kaifiyah mujahadah, PPM dll.
b. Teknologi irsyad (ilmu teknis bimbingan dan penyuluhan Islam). Meliputi: teknik penyuluhan Islam, kesehatan mental, psikoterapi Islam, metode penelitian penyuluhan Islam, komunikasi antara pribadi dan kelompok, kaifiyah mujahadah, PPm, dll.
c. Teknologi tadbir (ilmu teknis manajemen dakwah). Meliputi: manajemen organisasi Islam, manajemen pelatihan dakwah, pengembangan lembaga dakwah, manajemen bank Islam dan BMT, organisasi islam internasional, manajemen koperasi, PPM dll.
d. Teknologi tathwir (ilmu teknis / terapan pengembangan masyarakat Islam). Meliputi: teknik penyuluhan Islam, kesehatan mental, psikoterapi Islam, metode penelitian penyuluhan Islam, komunikasi antara pribadi dan kelompok, kaifiyah mujahadah, PPm, dll.

2.      Hubungan Ilmu Dakwah dengan Ilmu-Ilmu yang Lainnya.
Ilmu dakwah selalu membutuhkan bantuan ilmu-ilmu lainnya didalam memahami objek study materi dan objek studi formalya. Bentuk kerjasama atau keterkaitan antara ilmu dakwah dengan ilmu lainnya antara lain dapat dijelaskan sebagai berikut:

a)      Hubungan Ilmu Dakwah dengan Ilmu Agama Islam
Ilmu dakwah sendiri membahas tentang bentuk penyampaian ajaran Islam. Dan inti ajaran Islam adalah aqidah, syariah dan akhlaq, yang kemudian membentuk sebuah ilmu tersendiri yaitu ilmu tauhid, Syariah (ilmu fiqh) dan ilmu akhlaq yang disebut dengan ilmu agama Islam. Dan itu semua merupakan bentuk materi dakwah. Kemudian materi tersebut digunakan oleh seorang da’I  untuk berdakwah.
Jadi ilmu agama membutuhkan bantuan ilmu dakwah untuk disampaikan kepada umat manusia agar dapat diterima dengan baik dan diamalkan. Kalau ilmu agama tidak disampaikan maka ilmu itu merupakan suatu ide belaka yang tidak bisa terwujud dalam kenyataan serta tidak diketahui orang lain

b)      Hubungan llmu Dakwah dengan Ilmu-ilmu Sosial Politik.
Ilmu-ilmu Sosial menerangkan berbagai macam segi kehidupan individu dan sosial secara detail dan terperinci. Ilmu ini dapat membantu ilmu dakwah dalam memahami masyarakat tersebut, sebab penyampain ajaran Islam yang menjadi sarana ilmu dakwah sangat komplek yang menyangkut segi struktur sosial, proses sosial, interaksi sosial, dan perubahan sosial seperti yang dibahas dalam sosiologi; maupun tingkah laku manusia sebagai pribadi sosial dan masalah-masalah kejiwaan lainnya seperti yang dikaji dalm ilmu psikologi dn psikologi sosial.
Untuk plaksanaan dakwah itu sendiri, pengetahuan seorang da’i yang luas tentang segi-segi kehidupan individu dan sosial tersebut sangat dominan implikasinya dalam menentukan pendekatan dan cara-cara dakwah yang tepat. Tanpa pengetahuan yang demikian ini dakwah tidak akan mengenal bahkan tidak akan memiliki pengaruh keagamaan yang berati bagi individu dan masyarakat yang menerimanya.

c)      Hubungan llmu Dakwah dengan Ilmu Psikologi
Ilmu-ilmu normatif adalah ilmu-ilmu yang membicarakan bagaimana seharusnya sesuatu itu, sebagai kebalikan dari ilmu-ilmu positif yang membicarakan suatu menurut apa adanya. Yang termasuk ilmu normatif adalah: ilmu penelitian (riset), ilmu logika, ilmu bimbingan, dan penyuluhan, retorika, publisistik/komunikasi, dan sebagainya. [3]

D.    Kesimpulan
Ilmu dakwah adalah ilmu yang membahas tentang bentuk-bentuk penyampaian ajaran islam kepada seseorang atau sekelompok orang terutama mengenai bagaimana seharusnya menarik perhatian manusia agar mereka menerima dan mengamalkan ajaran secara kaffah.
Objek pengetahuan manusia itu bermacam-macam ada yang kalanya, tentang dirinya, tentang    benda-benda di sekelilingnya, tentang alam raya ini, tentang kehidupan manusia sehari-hari, tentang kegiatan keagamaan, dan sebaginya. Pengetahuan itu dapat diperoleh dengan tidak sengaja. Pengetahuan itu oleh Poedjawijadna dikatakan bisa berupa pengetahuan khusus dan berupa pengetahuan umum. Sedangkan pengetahuan umum yang merupakan pengetahuan yang berlaku bagi seluruh macam dan masing-masing dan macamnya.
Setiap ilmu pengetahuan mempunyai objek studi, karena ia merupakan salah satu pokok   syarat ilmu pengetahuan, di samping syarat-syarat lain yakni metodik, universal, dan sistematis. Sebagaimana dikatakan oleh Poedjawijadna dalam bukunya; Tahu dan Pengalaman sebagai berikut; jika pengetahuan hendak disebut sebagai ilmu, maka haruslah objektifitas, bermetodos universal, dan sistematis.
Ilmu dakwah sebagai disiplin ilmu dapat distrukturkan sebagai berikut : pertama Ilmu dasar teoritik, yaitu: disiplin ilmu yang   memberikan kerangka teori  dan metodologi dalam dakwah Islam. Kedua ilmu teknik/terapan, yaitu: disiplin ilmu yang memberikan kerangka teknis/operasional kagiatan dakwah Islam. Disiplin ini memberikan kemampuan teknis keahlian profesi dan disebut ilmu terapan/teknis-operasional dakwah (teknologi dakwah).
Ilmu dakwah selalu membutuhkan bantuan ilmu-ilmu lainnya di dalam memahami objek studi materi dan objek studi formanya.

E.     Penutup
 Demikian makalah ini kami buat ditujukan kepada mahasiswa/i khususnya fakultas Dakwah untuk dapat mengenal lebih dalam tentang perkembangan dakwah hingga menjadi sebuah disiplin ilmu pengetahuan serta aplikasi-aplikasi yang menemani ilmu dakwah. Dengan munculnya ilmu dakwah diharapkan dapat menjadi sebuah sarana yang menyebarluaskan agama islam kepada masyarakat dan dapat membentuk masyarakat yang berbudaya islami.  Kami juga sangat berharap kepada para cendikiawan dan aktivis dakwah terus melanjutkan pendalaman dan pemahaman  mengenai ilmu dakwah ini agar di kemudian hari ilmu dakwah akan mendapat ruang yang setempat dengan ilmu-ilmu yang lain di hati masyarakat. Amiin.