Kamis, 24 Februari 2011

Struktur Ilmu Dakwah dan Hubungan Ilmu Dakwah dengan Ilmu-ilmu yang lainnya


Struktur Ilmu Dakwah
Dan Hubungan Ilmu Dakwah Dengan Ilmu-Ilmu Yang Lainnya
 Oleh : Hasan Asy'ari Syaikho Al-Barbasy

A.    Pendahuluan
Aktivitas dakwah sebenarnya telah ada sejak adanya upaya menyampaikan dan mengajak manusia ke jalan Allah, namun kajian akademik keilmuannya masih tertinggal dibandingkan dengan panjangnya sejarah dakwah yang ada. Sebagai sebuah realita, dakwah merupakan bagian yang senantiasa ada sebagai aktivitas keagamaan umat Islam. Sementara sebagai kajian keilmuan pastinya hal ini memerlukan spesifikasi yang berbeda dan persyaratan tertentu.
Dewasa ini terdapat beberapa fenomena yang kemudian menempatkan kesadaran umat bahwa dakwah sebagai suatu aktivitas keagamaan memang memiliki kekutan yang besar dalam membentuk kecendrungan masyarakat. Hal ini sekaligus menumbuhkan secara jelas dan tegas sehingga ilmu ini dapat memberikan inspirasi yang baik bagi kecendrungan masyarakat. 
Maraknya dakwah, ternyata belum mampu menahan masuknya beberapa ajaran atau pemahaman yang tidak relevan dengan nilai-nilai ajaran agama secara hedonistik, matrealistik, dan sekuleristik.  Hal inilah yang kemudian menimbulkan kesalahpahaman dalam memahami dan menghayati pesan simbolis keagamaan. Sehingga ritualitas perilaku kesalehan dalam beragama masyarakat tidak menerangkan tentang perilaku keagamaan yang sesungguhnya di mana nilai-nilai keagamaan menjadi pertimbangan dalam berfikir maupun bertindak oleh individu maupun sosial.
Ilmu dakwah mengalami proses perkembangan yang positif sehinnga semakin hari semakin estabilished sehingga semakin waktu mendapat sambutan dan pengakuan dari masyarakat mengenai eksistensinya.

B.     Rumusan Masalah
1)      Apa Pengertian Ilmu Dakwah dan Bagaimana Struktur Ilmu Dakwah ?
2)      Bagaimana Hubungan Ilmu Dakwah Dengan Ilmu-Ilmu Yang Lainnya ?



C.    Pembahasan
1.      Pengertian Ilmu Dakwah dan Struktur Ilmu Dakwah.
Ilmu atau ilmu pengetahuan dalam bahasa inggrisnya science atau wissenschaft (bahas Jerman) atau watebchaf  (bahasa Belanda) dan ‘alima (bahasa Arab) yang berarti tahu. Jadi science maupun ilmu secara etimologi, berarti pengetahuan. Dalam bahasa Indonesia, antara pengetahuan, yang meliputi disiplin-disiplin ilmu pasti (natural science), ilmu-ilmu sosial (sosial science), dan ilmu-ilmu rohani-humaniora (humantis). Sedangkan dalam Ensiklopedia Indonesia ilmu pengetahuan diartikan sebagai suatu sistem dari berbagai pengetahuan yang masing-masing mengenai satu lapangan pengalaman tertentu yang disusun sedemikian rupa menurut asas-asas tertentu, sehingga menjadi kesatuan, suatu sistem dari berbagai pengethuan yang masing-masing didapatkan dari hasil pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan secara teliti dengan memakai metode-metode tertentu.
Sementara itu menurut A. Hakim Nasution pengetahuan atau science adalah hasil penalaran manusia dengan akalnya berupa pengalaman manusia yang diberi pola sistematis. Oleh Soejono Soemargono diartikan sebagai; Suatu sistem yang terdiri dari pengetahuan-pengetahuan yang ditujukan untuk memperoleh kebenaran (ilmiah) dan sedapat mungkin untuk mencapai kebahagiaan manusia.
Sementara itu RBS. Fudyatartanta mengatakan bahwa pengetahuan yang ada dalam ilmu pengetahuan itu harus diperoleh dari pemikiran yang logis dan rasional. Oleh karena itu, beliau mengatakan bahwa pengetahuan itu ialah: Susunan yang sistematis dari kenyataan ilmiah mengenai suatu objek atau masalah yang diperoleh dari pemikiran yang runtut (hasil logika formil dan logika materil).
Pengertian dakwah banyak dituangkan dalam bahasa dan kalimat yang berbeda, tapi kandungan isinya tetap sama bahwa dakwah dipahami sebagai seruan, ajakan dan panggilan dalam rangka membangun masyarakat Islami berdasarkan kebenaran ajaran Islam yang hakiki. Essensi dakwah adalah segala aktifitas dan kegiatan yang mengajak orang untuk berobah dari satu situasi yang mengandung nilai kehidupan yang bukan Islami kepada nilai kehidupan yang Islami.
Sedangkan ilmu dakwah menurut Toha Yahya Oemar memberikan dua macam definisi ilmu dakwah, yaitu definisi secara umum dan definisi menurut Islam. “Adapun definisi ilmu dakwah secara umum ialah suatu ilmu pengetahuan yang berisi cara-cara  dan tuntutan bagaimana seharusnya menarik perhatian manusia untuk menganut, menyetujui, melaksanakan suatu ideologi, pendapat pekerjaan yang  tertentu. Adapun definisi dakwah menurut islam ialah mengajak manusia dengan cara yang sangat bijaksana kepada jalan yang benar sesuai peringatan Tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat”.[1]
Banyak definisi ilmu dakwah yang menekankan aspek dakwah sebagai realitas sosial, bukan dakwah sebagai kewajiban setiap muslim. Pandangan dakwah sebagai kewajiban akan mengarahkan ilmu dakwah sebagai kajian normatif. Kajian normatif dakwah melibatkan nash Al Qur’an dan Al Sunnah sebagai pijakan utama. Ia tidak hanya menafsirkan nash terkait dengan dakwah, namun menghubungkan secara timbal balik antara nash dan realitas sosial.
Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas maka ilmu dakwah  dapat ditakrik sebagai berikut: Ilmu dakwah adalah ilmu yang membahas tentang bentuk-bentuk penyampaian ajaran islam kepada seseorang atau sekelompok orang terutama mengenai bagaimana seharusnya menarik perhatian manusia agar mereka menerima dan mengamalkan ajaran islam secara kaffah”.[2]
Disiplin ilmu dakwah dapat distrukturkan sebagai berikut:
1.      Ilmu dasar teoritik, yaitu: disiplin ilmu yang   memberikan kerangka teori  dan metodologi dalam dakwah Islam.
2.      Ilmu teknik/terapan, yaitu: disiplin ilmu yang memberikan kerangka teknis/operasional kagiatan dakwah Islam. Disiplin ini memberikan kemampuan teknis keahlian profesi dan disebut ilmu terapan/teknis-operasional dakwah (teknologi dakwah).


Bagian ilmu terapan ini terdiri dari empat kelompok utama, yaitu:
a. Teknologi tabligh (ilmu teknis komunikasi dan penyiaran Islam). Meliputi: teknik khithabah, teknik peliputan berita dakwah, produksi radio, televisi dan film dakwah, teknik penulisan tajuk rencana dan feature dakwah, teknik pengebangan majlis taklim, geografi Islam, kebijakan dan strategi informasi Islam, kaifiyah mujahadah, PPM dll.
b. Teknologi irsyad (ilmu teknis bimbingan dan penyuluhan Islam). Meliputi: teknik penyuluhan Islam, kesehatan mental, psikoterapi Islam, metode penelitian penyuluhan Islam, komunikasi antara pribadi dan kelompok, kaifiyah mujahadah, PPm, dll.
c. Teknologi tadbir (ilmu teknis manajemen dakwah). Meliputi: manajemen organisasi Islam, manajemen pelatihan dakwah, pengembangan lembaga dakwah, manajemen bank Islam dan BMT, organisasi islam internasional, manajemen koperasi, PPM dll.
d. Teknologi tathwir (ilmu teknis / terapan pengembangan masyarakat Islam). Meliputi: teknik penyuluhan Islam, kesehatan mental, psikoterapi Islam, metode penelitian penyuluhan Islam, komunikasi antara pribadi dan kelompok, kaifiyah mujahadah, PPm, dll.

2.      Hubungan Ilmu Dakwah dengan Ilmu-Ilmu yang Lainnya.
Ilmu dakwah selalu membutuhkan bantuan ilmu-ilmu lainnya didalam memahami objek study materi dan objek studi formalya. Bentuk kerjasama atau keterkaitan antara ilmu dakwah dengan ilmu lainnya antara lain dapat dijelaskan sebagai berikut:

a)      Hubungan Ilmu Dakwah dengan Ilmu Agama Islam
Ilmu dakwah sendiri membahas tentang bentuk penyampaian ajaran Islam. Dan inti ajaran Islam adalah aqidah, syariah dan akhlaq, yang kemudian membentuk sebuah ilmu tersendiri yaitu ilmu tauhid, Syariah (ilmu fiqh) dan ilmu akhlaq yang disebut dengan ilmu agama Islam. Dan itu semua merupakan bentuk materi dakwah. Kemudian materi tersebut digunakan oleh seorang da’I  untuk berdakwah.
Jadi ilmu agama membutuhkan bantuan ilmu dakwah untuk disampaikan kepada umat manusia agar dapat diterima dengan baik dan diamalkan. Kalau ilmu agama tidak disampaikan maka ilmu itu merupakan suatu ide belaka yang tidak bisa terwujud dalam kenyataan serta tidak diketahui orang lain

b)      Hubungan llmu Dakwah dengan Ilmu-ilmu Sosial Politik.
Ilmu-ilmu Sosial menerangkan berbagai macam segi kehidupan individu dan sosial secara detail dan terperinci. Ilmu ini dapat membantu ilmu dakwah dalam memahami masyarakat tersebut, sebab penyampain ajaran Islam yang menjadi sarana ilmu dakwah sangat komplek yang menyangkut segi struktur sosial, proses sosial, interaksi sosial, dan perubahan sosial seperti yang dibahas dalam sosiologi; maupun tingkah laku manusia sebagai pribadi sosial dan masalah-masalah kejiwaan lainnya seperti yang dikaji dalm ilmu psikologi dn psikologi sosial.
Untuk plaksanaan dakwah itu sendiri, pengetahuan seorang da’i yang luas tentang segi-segi kehidupan individu dan sosial tersebut sangat dominan implikasinya dalam menentukan pendekatan dan cara-cara dakwah yang tepat. Tanpa pengetahuan yang demikian ini dakwah tidak akan mengenal bahkan tidak akan memiliki pengaruh keagamaan yang berati bagi individu dan masyarakat yang menerimanya.

c)      Hubungan llmu Dakwah dengan Ilmu Psikologi
Ilmu-ilmu normatif adalah ilmu-ilmu yang membicarakan bagaimana seharusnya sesuatu itu, sebagai kebalikan dari ilmu-ilmu positif yang membicarakan suatu menurut apa adanya. Yang termasuk ilmu normatif adalah: ilmu penelitian (riset), ilmu logika, ilmu bimbingan, dan penyuluhan, retorika, publisistik/komunikasi, dan sebagainya. [3]

D.    Kesimpulan
Ilmu dakwah adalah ilmu yang membahas tentang bentuk-bentuk penyampaian ajaran islam kepada seseorang atau sekelompok orang terutama mengenai bagaimana seharusnya menarik perhatian manusia agar mereka menerima dan mengamalkan ajaran secara kaffah.
Objek pengetahuan manusia itu bermacam-macam ada yang kalanya, tentang dirinya, tentang    benda-benda di sekelilingnya, tentang alam raya ini, tentang kehidupan manusia sehari-hari, tentang kegiatan keagamaan, dan sebaginya. Pengetahuan itu dapat diperoleh dengan tidak sengaja. Pengetahuan itu oleh Poedjawijadna dikatakan bisa berupa pengetahuan khusus dan berupa pengetahuan umum. Sedangkan pengetahuan umum yang merupakan pengetahuan yang berlaku bagi seluruh macam dan masing-masing dan macamnya.
Setiap ilmu pengetahuan mempunyai objek studi, karena ia merupakan salah satu pokok   syarat ilmu pengetahuan, di samping syarat-syarat lain yakni metodik, universal, dan sistematis. Sebagaimana dikatakan oleh Poedjawijadna dalam bukunya; Tahu dan Pengalaman sebagai berikut; jika pengetahuan hendak disebut sebagai ilmu, maka haruslah objektifitas, bermetodos universal, dan sistematis.
Ilmu dakwah sebagai disiplin ilmu dapat distrukturkan sebagai berikut : pertama Ilmu dasar teoritik, yaitu: disiplin ilmu yang   memberikan kerangka teori  dan metodologi dalam dakwah Islam. Kedua ilmu teknik/terapan, yaitu: disiplin ilmu yang memberikan kerangka teknis/operasional kagiatan dakwah Islam. Disiplin ini memberikan kemampuan teknis keahlian profesi dan disebut ilmu terapan/teknis-operasional dakwah (teknologi dakwah).
Ilmu dakwah selalu membutuhkan bantuan ilmu-ilmu lainnya di dalam memahami objek studi materi dan objek studi formanya.

E.     Penutup
 Demikian makalah ini kami buat ditujukan kepada mahasiswa/i khususnya fakultas Dakwah untuk dapat mengenal lebih dalam tentang perkembangan dakwah hingga menjadi sebuah disiplin ilmu pengetahuan serta aplikasi-aplikasi yang menemani ilmu dakwah. Dengan munculnya ilmu dakwah diharapkan dapat menjadi sebuah sarana yang menyebarluaskan agama islam kepada masyarakat dan dapat membentuk masyarakat yang berbudaya islami.  Kami juga sangat berharap kepada para cendikiawan dan aktivis dakwah terus melanjutkan pendalaman dan pemahaman  mengenai ilmu dakwah ini agar di kemudian hari ilmu dakwah akan mendapat ruang yang setempat dengan ilmu-ilmu yang lain di hati masyarakat. Amiin.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar